(Postingan berikut adalah karya tulis Aloysius Indratmo)
Dalam
membeberkan ceritanya, seorang pengarang menciptakan tokoh-tokoh. Dalam
menciptakan tokoh-tokoh itu pengarang memberikan citra yang
berbeda-beda pada masing-masing tokoh. Di dalam citra tokoh itulah,
secara langsung atau tidak langsung, tertuang kekayaan pengalaman,
cita-cita serta amanat yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca.
Demikian pula kita dapati dalam tokoh Karna, seorang “manusia” yang
tampil dalam cerita Bharatayuddha.
Karna atau Adipati Karna atau Basukarna pernah dijadikan tokoh teladan oleh Sri Mangkunagara IV dalam karyanya Tripama. Secara keseluruhan Tripama
adalah tiga tokoh yang diwajibkan untuk dijadikan teladan bagi orang
yang ingin mengabdikan diri di bidang keprajuritan dan kewiraan. Ketiga
tokoh tersebut adalah Mahapatih Sumantri dari Mahespati, Mahawira
Kumbakarna dari Alengka, dan Adipati Karna dari Astina. Jika Sri
Mangkunagara IV telah mengangkat Karna karena keperwiraannya, tulisan
ini akan menilik Karna dari aspek penderitaannya.
Karna
dilahirkan di luar kehendak ibunya, Kunti. Bahkan kelahirannya tidak
melalui pintu rahim sebagaimana layaknya seorang bayi, tetapi melalui
lobang telinga. Setelah lahir Kunti tambah bingung. Apa yang harus
diperbuatnya dengan anak Dewa Surya itu. Untuk menghindarkan kutuk dan
malu, bayi itu akhirnya dimasukkan ke dalam kendaga lalu dihanyutkan ke
dalam sungai.
Tak
tahulah bagaimana perasaan bayi Karna pada waktu itu. Ia hanya bayi yang
dapat menangis saja. Inilah awal penderitaan yang dialami oleh Karna di
dunia.
Menurut
seorang ahli ilmu jiwa, Otto Rank, kelahiran adalah suatu pengalaman
pedih pertama yang menjadi dasar bagi penderitaan manusia sepanjang
hidupnya. Lahir ke dunia berarti “dikeluarkan dari Taman Firdaus”,
terlempar menjadi seorang pengembara yatim piatu di dalam dunia.
Pendapat
Otto Rank ini menjadi nyata dalam kehidupan Karna. Penderitaan Karna
semakin nyata dalam sebagian hidupnya bersama Ki Adirata dan Nyi Nanda,
seorang kusir kereta Astina. Sebagai seorang anak kusir Karna harus
membantu pekerjaan orang tuanya dari mencari rumput sampai memandikan
kuda-kuda. Karna benar-benar menjalani masa mudanya dalam penderitaan
kaum Sudra.
*******
Jika
kehidupan Karna direnungkan dari penderitaannya maka kelahiran Karna tak
dapat dipisahkan dari kematiannya dalam perang besar Bharata. Kelahiran
Karna sudah mengandung misteri Bharatayudha. Sebagai seorang anak ia
telah berbakti kepada orang tuanya, sebagai ksatria ia telah melakukan
kewajibannya dalam membela negara. Tetapi nasib begitu malang
merenggutnya. Nasib telah lebih dulu menentukan ia harus mati dalam
Bharatayudha.
Karna
bukan tidak tahu akan nasib yang bakal menimpa dirinya, tetapi dengan
kesadaran penuh akan tanggung jawabnya (sebagai pribadi dan sebagai
senopati Korawa) ia terima nasib itu dengan lapang dada. Oleh karena
itulah ajakan Kunti dan juga Kresna agar ia menyeberang memihak Pandhawa
ditolaknya dengan halus. Kepada Kresna Karna berkata, “Saya tahu Kurawa
pasti akan lebur walaupun dibantu dengan kekuatan militer bagaimana pun
kuatnya. Saya pun tahu artinya Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti,
tetapi saya juga tahu apa kewajiban seorang prajurit sejati. Akulah
yang menghendaki perang Bharatayudha segera terjadi, agar angkara murka
di muka bumi ini segera lebur. Dengan inilah berarti aku telah
menjalankan dharma dan karmaku.”
Karna
telah merelakan dirinya sebagai tumbal bagi kemenangan
saudara-saudaranya, Pandawa. Maka kejayaan Karna sebagai adipati
hanyalah setitik embun di padang gersang. Kejayaan dan kelimpahan harta
adipati itu tak kuasa menghapuskan penderitaan Karna, bahkan justru
mempertajam kontradiksi antara penderitaan sebelumnya dan ketragisan
sesudahnya.
Ketika
Karna harus berhadapan dengan Arjuna dalam perang tanding, Bathara Indra
menjadi gelisah. Bathara Indra tahu bahwa Karna memiliki perisai di
dada yang sangat sakti, hadiah Dewa Surya. Tiada senjata lain yang dapat
mengalahkan perisai Karna itu. Maka Bathara Indra datang dengan
menyamar sebagai pendeta tua untuk meminta perisai Karna. Tetapi sebelum
satu patah kata pun terucap dari bibir Bathara Indra, Karna telah
memberikan perisai pusaka itu. Kepada Bathara Indra Karna berkata,
“Biarlah saya yang mati, sebab jika Dinda Arjuna yang mati akan sangat
sedihlah hati Bunda Kunti. Dinda Arjuna begitu dekat di hati Bunda
sedangkan aku, memang sejak kecil tidak bersatu dengan Bunda.”
Mendengar
kata-kata Karna itu sangat kagumlah Bathara Indra, maka ia segera
berubah ke wujud semula, dan serta-merta memeluk Karna. Di sinilah
kebesaran Karna semakin tampak, ia tidak dapat dikalahkan dalam keadaan
apapun.
Nyatalah
bahwa makna hidup bukan terletak pada status, gengsi dan struktur,
tetapi pada bagaimana hidup itu dijalani. Bagaimana pengorbanan,
kegagalan yang terpaksa harus dijatuhkan, dan tumbal yang harus diadakan
itu dihayati sebagai keberadaan hidup dan kehidupan itu sendiri.
*******
Meskipun
sulit menemukan arti dan tujuannya, manusia tak dapat ingkar bahwa
penderitaan adalah nasibnya yang hakiki. Manusia merasa tak pernah dapat
mengelakkan penderitaan, bahkan seandainya telah mengecap kebahagiaan
dalam kelimpahan. Apalagi bagi mereka yang miskin dan berkekurangan.
Seorang
Filosof Agung dari India, Sidharta Budha Gautama, pernah menuliskan hal
ini dalam sebuah syair yang indah sebagai berikut:
Kebenaran pertama ialah tentang kesedihan
hidup yang kau sanjung adalah derita berkepanjangan
hanya sakitnya yang tetap tinggal
sedang kesenangannya
laksana burung-burung yang lincah
terbang pergi … (Dhammapada, syair 277- 279).
Penderitaan dialami
manusia sejak ia dilahirkan ke dalam dunia. Bahkan Martin Heidegger
mengatakan bahwa keberadaan manusia itu fana dan mengalami kematian
sejak ia mulai berada. Keberadaan manusia itu suatu keberadaan untuk
mati. Albert Camus juga melihat ketragisan ini. Manusia dilemparkan ke
suatu dunia yang asing, katanya. Inilah absurdnya kehidupan manusia.
Tetapi Camus juga menunjukkan posisi dalam menghadapi kehidupan yang
absurd ini: hadapi tanpa pernah menyerah. Di sinilah justru kebesaran
dan kemenangan manusia.
Karna
bukanlah Albert Camus. Dalam menghadapi nasib penderitaan manusia, Camus
berusaha memberontak. Hal ini sesuai dengan kebudayaan Barat yang
selalu ingin menguasai dunia. Lain halnya dengan Karna yang lahir dari
kebudayaan Timur. Karna tampil sebagai manusia Timur dengan latar
kebudayaan ke-Timur-an. Dengan kesadaran akan nasib dirinya, Karna
menerima penderitaan itu seorang diri tanpa memberontak. Di sinilah
kearifan Karna, ia begitu éklas dan rila menerima penderitaannya.
Éklas
berarti “bersedia”. Sikap ini mengandung kesediaan untuk melepaskan
individualitas sendiri dan mencocokkan diri dalam keselarasan agung alam
semesta sebagaimana telah ditentukan. Arah yang sama ditunjuk oler
sikap rila, yaitu kesanggupan untuk melepaskan, sebagai
kesediaan untuk melepaskan hak milik, kemampuan-kemampuan dan
hasil-hasil pekerjaan sendiri apabila itulah yang menjadi tuntutan
tanggung jawab atau nasib (Franz Magnis Susena, 1984:134).
Di Timur,
manusia tidak pernah dianggap untuk dirinya sendiri, melawan orang lain
dan alam yang harus dia kuasai dan miliki. Manusia selalu dilihat
sebagai bagian integral dari keseluruhan alam semesta, di sana ia
mempunyai tempat dan peranan. Keseluruhan adalah yang pertama, bukan
bagian, betapa pun dia penting. Manusia hanya merupakan satu nada dalam
musik simphoni universal, ia bukan pimpinan orkes itu (To Thi Anh,
1984:31).
Ketabahan
Karna dalam menerima nasibnya adalah juga karena kesadaran dan
pengertiannya. Karna sadar bahwa dirinya harus menjadi tumbal dalam
Bharatayudha. Memahami logos suatu perbuatan berarti mengerti,
mengapa perbuatan itu harus dilakukan demikian. Mengerti hal ikhwal
sekitar kita berarti mengerti apa yang terjadi, bahkan juga bila timbul
masalah-masalah yang sukar mengenai dosa dan penderitaan (Peursen,
1976:56). Mengerti, memahami sebab-sebabnya itulah lalu terasa sebagai
pembebasan dan suatu penebusan.
*******
Penderitaan
juga sering dimengerti sebagai ketidakmampuan manusia untuk
sungguh-sungguh beremansipasi menjadi manusia sepenuhnya. Secara lebih
ilmiah, pengalaman dasar ini dapat diterangkan sebagai adanya ketegangan
yang selalu tak terdamaikan antara alam dan sejarah. Manusia tetap
berada dalam kekurangannya yang hakiki, yang alami, meskipun ia sudah
sangat beranjak dalam kemajuan menyejarah.
Teknologi
modern pun belum berhasil mengangkat nasib manusia yang hakiki itu. Di
sana-sini ia justru makin menciptakan penindasan. bahkan menurut Erich
Fromm (dalam Toward Liberal Education), teknologi modern dan
berbagai kemajuan yang dicapai manusia itu justru mengakibatkan
penderitaan manusia. Menurut Fromm, selaras dengan kemajuan teknologi
modern dan beribu kemajuan lain yang dicapai homo sapiens, manusia semakin kehilangan sense of self dalam
dirinya, manusia merasa hidupnya semakin tak punya makna. Abab XX
adalah abad kematian manusia karena dalam abad XX inhumanitas semakin
nyata. Berarti manusia berubah menjadi robot. Robot tak pernah berpikir,
hidup dan tinggal sehat. Manusia lalu menjadi golems yang menghancurkan dunia dan dirinya sendiri, sebab tak tahan dihanyutkan kejenuhan dan kebosanan hidup tanpa makna.
Secara
implisit Fromm mengatakan bahwa sebenarnya ada pembangunan yang
sesungguhnya bukan pembangunan tetapi pengrusakan. Tentang hal ini
sebenarnya Allah sendiri telah memperingatkan,
“Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab, Sesungguhnya kami sedang membangun. Ingatlah, sebenarnya mereka itu sedang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (Al Baqarah:11, 12).
Karena
pengalaman penderitaan itu muncullah kritik pesimistis terhadap
optimisme modern. Mitos Promotheus yang ambisius dan sombong berpaling
kepada mitos Sisyphus yang fatal dan gagal. Tiba-tiba orang tersentak
oleh pesimisme Absurditas Albert Camus dan sinis terhadap optimisme
teori evolusi Teilhard de Chardin.
*******
Pemahaman
diri akan ketakberdayaan dalam menghadapi nasib pada diri Karna membuat
ia berdiri pada posisi mereka yang lemah dan tak berdaya. Maka Karna
dapat dijadikan inspirasi dan dorongan bagi mereka yang menderita,
lemah, miskin, dan tertindas. Dan justru karena itu Karna juga selalu
mengingatkan agar manusia tidak sombong dengan kekuasaan dan
kekayaannya. Kesombongan itu perlu meluntur menjadi kerendahan hati yang
nyata, berbagi rasa dan menolong mereka yang tertindas dan menderita.
Peradaban Jawa yang memiliki konsep dasar tertib sosial, tertib kosmik dan tertib religi membentuk Karna rila
berkorban. Agaknya Karna sejajar dengan apa yang disebut Lucien
Goldmann (1977:81-82) sebagai “manusia Tuhan”. Goldmann mengatakan bahwa
manusia tragik tetap sendirian, ditakdirkan untuk tidak dimengerti oleh
manusia yang selalu tidur dan dihadapkan kepada kemarahan Tuhan yang
tersembunyi dan tidak hadir. Akan tetapi dalam kesendirian dan
penderitaannya itu ia mendapatkan satu-satunya nilai yang dapat
membuatnya menjadi besar. Nilai itu adalah kodrat yang mutlak dan kukuh
dari kesadarannya dan tuntutan etiknya (tuntutan akan keadilan dan
kebenaran yang mutlak serta menolak terhadap ilusi-ilusi dan kompromi).
Pengertian terakhir ini menunjukkan adanya perbedaan antara penderitaan
yang dialami oleh manusia yang tidak sanggup melampaui level binatang
yang kasar dengan penderitaan yang sekaligus diinginkan dan diterima
oleh “manusia Tuhan”. “Manusia Tuhan” menyelamatkan nilai-nilai dan
harkat kemanusiaan.
*******
Demikianlah
tinjauan ringkas akan tragedi kehidupan Karna. Tinjauan ini berdasarkan
atas asumsi bahwa karya sastra ditulis bukan hanya bertujuan untuk
hiburan belaka, melainkan juga sebagai pengajaran dan pendidikan yang
erat berpaut dengan religi. Nyatalah bahwa sastra Jawa dapat memberi
informasi tentang peradaban Jawa dalam berbagai aspeknya. Kesastraan
Jawa meliputi bidang yang hampir seluas peradaban Jawa itu sendiri.
Albert
Camus dan para Eksistensialis Barat mengangkat nilai-nilai personal
sedemikian tingginya, sehingga hidup dan kehidupan ini dipandang hanya
dari kaca mata individualitas semata. Mereka menyimpulkan bahwa
penderitaan itu tanpa makna, sia-sia. Tetapi dari Karna kita tahu bahwa
penderitaan dan kematian itu pun membawa makna bagi orang lain.
Penderitaan dan kematian dapat menjadi tumbal bagi kebahagiaan orang
lain, atau bahkan sebagai penebusan. Inilah yang tak pernah ditangkap
oleh para eksistensialis Barat.
obsesi atas perhentian keenam sampai keempat belas
Sendangsono, 22 Oktober 1986

No comments:
Post a Comment